Mutiara:
KELUARGA BESAR SDI AL-ISLAM MENGUCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU 1435 HIJRIAH
Latest Post

Perhatikanlah Teman-temannya

Written By admin on Kamis, 07 November 2013 | 10.58


“Anak anda mungkin bersih tetapi bagaimana dengan teman-temannya?”
Sepertinya bagus juga nasehat itu dibawa ke hal-hal lainnya agar orangtua lebih waspada.
“Anak anda rajin mengaji tetapi bagaimana dengan teman-temannya?”
“Anak anda rajin belajar tetapi bagaimana dengan teman-temannya?”
“Anak anda tidak berkata buruk tetapi bagaimana dengan teman-temannya?”
“Anak anda tidak merokok tetapi bagaimana dengan teman-temannya?”
“Anak anda tidak pernah melihat pornografi tetapi bagaimana dengan teman-temannya?”
Dan masih banyak deret pertanyaan yang bisa dibuat. Bukan untuk menyebarkan paranoid tetapi mengajak orangtua untuk waspada, karena banyak orangtua merasa aman-aman saja dengan pergaulan anak-anaknya tidak tahu apa yang tetjadi di balik punggungnya. Membatasi pergaulan anak, jelas bukan suatu langkah yang tepat karena bagaimanapun seorang anak membutuhkan teman untuk bersosialisasi dan mengembangkan kepribadiannya. Maka yang perlu dilakukan adalah memastikan anak mampu untuk memilih  dan mendapatkan teman-teman yang baik.
Rasulullah Shalallahu a’laihi wasallam memberi nasehat dalam memilih teman,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة
Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)
Hadis diatas perlu dipahami oleh orangtua agar bisa mengajarkan pada anaknya bahwa parameter kebaikan dalam memilih teman adalah kebaikan agamanya,dalam bentuk yang lebih kongkret dilihat dari bagaimana sholatnya, akhlaqnya, sikapnya pada orangtua dsb. Seorang anak tidak akan bisa memilih teman yang shalih jika dia sendiri tidak terbiasa dan terdidik dalam keshalihan keluarga, tidak melihat contoh keseharian dari orangtuanya. Memilihkan anak sekolah yang baik hanya satu cara untuk menjaga pergaulan anak tetapi memberi bekal dan landasan yang kuat saat mereka bergaul dengan teman-temannya akan jauh lebih penting karena orangtua tidak bisa mengawasi anaknya 24 jam.
Sangat sedih melihat anak-anak belia tersangkut masalah-masalah besar baik sebagai pelaku ataupun sebagai korban, dan semua itu tidak terlepas dari teman-temannya.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita dan keluaraga kita dari pengaruh teman-teman yang buruk dan mengumpulkan kita bersama teman-teman yang baik.
Wallahul musta’an. 
Diatri Ratih Rahayu, S.Si,Apt

Pohon Untuk Anak

Written By admin on Jumat, 01 November 2013 | 10.43

Sleman, 29 Oktober 2013. SDI Al-Islam Tambakbayan bekerjasama dengan Novotel Yogyakarta menggelar acara penenanaman pohon bertajuk 'A Tree For A Child', Pohon untuk Anak. Pohon yang ditanam adalah tanaman obat dan sayuran serta tanaman buah yang bermanfaat bagi kesehatan. Tanaman obat seperti rosemary, kencur, jahe, bayam, ceplukan, kunyit dll. Tanaman buah seperti sawo, belimbing, rambutan, dan sirsak. Tanaman tersebut ditanam di Kebun Botani Al-Islam, kompleks kampus SDI Al-Islam Tambakbayan.

Acara ini merupakan persembahan dari Novotel Yogyakarta, jaringan grup  ACCOR untuk anak-anak dan lingkungan. Anak-anak yang sehat dan lingkungan yang bersih sangat berharga bagi masa depan bangsa. Seperti ditegaskan General Manager Novotel Yogyakarta, Mrs jessica "One program from Novotel Yogyakarta for children and environment. Healty children and clean environment are amongst Indonesia's most valuable asset for the future". 

Proyek ini ditujukan khusus untuk pendidikan dan pengembangan yang berkesinambungan secara terus menerus. Pendidikan adalah kunci untuk kemajuan suatu negara. Konsep ini meliputi perlindungan lingkungan dan pendidikan anak-anak yang memberikan pandangan dimensi spiritual dan sosial. Program ini juga menunjukkan Accor sangat peduli dan berperan untuk komunitas lokal sekitarnya.

Sementara itu Kepala Sekolah SDI Al-Islam mengatakan, penaman pohon yang kita lakukan memang tidak dapat dirasakan manfaatnya saat ini, tetapi tahun-tahun mendatang anak cucu kita pasti dapat merasakannya. “Oleh sebab itu tanamlah pohon untuk generasi penerus kita sebagai warisan yang tak ternilai bagi mereka pada saatnya”, tegas Zuharmin, S.Pd. (Reported by pq)

Penyembelihan Hewan Qurban 1434 H

Written By admin on Rabu, 16 Oktober 2013 | 09.41




Penyembelihan Hewan Qurban 1434 H

Assalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

alhamdulillahi rabbal'alamin.

segala puji kami haturkan kepada Allah subhanahu wa ta'aalaa yang telah melimpahkan karunia, rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua sehingga kita bisa melaksanakan sebuah pendidikan guna mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim 'Alaihi wassalam untuk menyembelih putranya yang bernama Ismail demi membuktikan cintanya kepada Allah subhanahu wa ta'aalaa.

pelaksanaan penyembelihan hewan Qurban 1434 H "2013 Masehi" dilaksanakan di SDIT Al-Islam Tambakbayan pada hari Rabu, 16 Oktober 2013 dari jam 07.00 sampai dengan berita ini dimuat masih berlangsung proses pengeletan daging Qurban.

pada kesempatan kali ini kami menyembelih sebanyak 7 hewan Kambing dan yang bertindak sebagai shahibul Qurban ialah,

  1. M. Nashiruddin Hasan
  2. M. Idris Abdullah
  3. Bapak Muslikhin
  4. Keluarga Bapak Achmad Romadhan
  5. Athira Ramdhasia Rakasima Putri
  6. Paradissa Mawla Khansa Andhini
  7. Auliya Isnaini

Ini merupakan Qurban ketiga yang diselenggarakan oleh SDIT Al-Islam. dan sebagai wahana pembelajaran untuk para siswa dan siswi dalam menyambut Idul Adha. sehingga kami ucapkan sebesar-besarnya kepada shahibul Qurban yang telah mempercayakan hewan Qurbannya kepada kami.

Jazaakumullahu khair.

Wassalamu'alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.


Penulis : Syarifain Ghafur




Manasik 2013

Written By admin on Selasa, 08 Oktober 2013 | 14.04


 Manasik Haji 2013
alhamdulillahi rabbal'alamin.

segala puji kami haturkan kepada Allah subhanahu wa ta'aalaa yang telah melimpahkan karunia, rahmat, hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua sehingga kita bisa melaksanakan sebuah pendidikan guna memberikan gambaran tentang pelaksanaan ibadah haji.

pelaksanaan pelatihan manasik haji 2013 dilaksanakan di SDIT Ukhuwah Islami-ah pada hari Selas, 08 Oktober 2013 dari jam 07.00 sampai dengan jam 09.30.

Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dikerjakan apabila sudah mampu untuk melaksanakannya.

bagi orang tua/wali murid yang hendak meminta foto putra-putrinya bisa menghubungi guru dengan menyiapkan flashdisk kosong minimal 1,6 GB.

Penulis : Syarifain Ghafur

Siapa yang Lebih Didengarkan Oleh Anak Kita?

Written By admin on Selasa, 01 Oktober 2013 | 09.45

Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Apakah yang dapat kita renungkan dari kisah Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihimassalaam? Keduanya adalah nabi yang Allah Ta’ala berikan kemuliaan amat tinggi. Keduanya adalah rasul, orang yang diutus Allah ‘Azza wa Jalla untuk menyampaikan risalah agar orang-orang yang ingkar kepada Allah Ta’ala menjadi manusia beriman. Dan seorang nabi, akhlaknya pasti terjaga, imannya sudah jelas luar biasa dan ‘ibadahnya tak perlu kita ragukan.

Mereka berdua adalah manusia pilihan sepanjang zaman. Jangan tanya kesungguhan keduanya ‘alaihimassalaam bermunajat kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak mungkin seorang nabi lemah ‘ibadahnya dan rapuh keyakinannya.Tidaklah mereka berdo’a kepada Allah Ta’ala melainkan sepenuh keyakinan dan amat besar pengharapannya. Tetapi ini semua tak mencukupi untuk mengantarkan anak-anak agar menjadi manusia beriman. Kita belajar dari sejarah agama ini betapa putra kedua Nabi ‘alaihimassalaam ini justru termasuk ahli neraka dengan siksa yang kekal. Na’dzubillahi min dzaalik.

Mengapa bisa demikian? Mari sejenak kita renungi firmanAllah Ta’ala, “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shaleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari(siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); ‘Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)’.” (QS. At-Tahriim, 66: 10).

Apa yang dapat kita renungkan dari ayat ini? Ada beberapa hal. Sebagian di antaranya adalah, betapa kita amat perlu bersungguh-sungguh mendidik anak-anak kita dan menghindarkan mereka sejauh-jauhnya dari siksa neraka. Jika hari ini kita tak tega melihat penderitaan mereka di dunia, lalu merasa amat khawatir dengan “masa depan mereka” sesudah dewasa nanti, maka tegakah kita membiarkan wajahnya melepuh dibakar api neraka? Sedangkan seorang nabi pun tak sanggup mengelakkan anaknya dari siksa neraka jika tak ada iman di hati orang yang amat dicintai tersebut.

Ayat ini secara jelas menunjukkan kepada kita betapa khianatnya seorang istri akan meruntuhkan bangunan iman di rumah kita, meski kita tak putus berdakwah dan tak lelah menyampaikan risalah-Nya. Segenggam iman anak kita akan terlepas begitu saja jika istri tak satu kata dengan suami. Ayahnya memang beriman, tapi ibu yang setiap saat mendekap dan mengasuhnya terlepas dari iman, sehingga anak pun tak sanggup menggenggam iman kepada AllahTa’ala.

Bayangkan. Mereka hidup di masa ketika pengaruh dunia luar tak sebanyak sekarang. Ada tetangga, tapi saling berjauhan jika diukur dari dekatnya tetangga di zaman kita. Tak ada media massa yang mencecar dengan berbagai hal secara masif, intensif dan terus-menerus sebagai sekarang. Tak ada internet, tak ada juga pembantu rumah-tangga maupun lembaga pendidikan formal. Tetapi ketika ayah dan ibu sudah tidak sejalan, maka segenggam iman di hatianak tak dapat tumbuh mengakar dengan kuat. Maka, apakah yang dapat kita renungkan untuk kita hari ini? Apakah yang dapat kita renungkan tentang anak-anak kita?

Cara paling aman yang dapat kita lakukan agar anak tak terpapar pengaruh dari luar adalah mendidik sendiri anak kita di rumah. Tidak mengirim mereka ke sekolah. Tetapi ada syaratnya. Pertama, kita memang harus benar-benar mengilmui apa yang kita akan ajarkan sekaligus mengilmui bagaimana mengajarkannya kepada anak. Kedua, kita harus dapat menjamin bahwa orang-orang yang tinggal serumah dengan kita juga harus sejalan dan sepaham dengan kita. Ketiga, kita mendidik mereka secara total sehingga anak-anak memperoleh bekal yang mencukupi.

Nah, pertanyaannya, siapkah kita untuk itu semua? Jika tidak, maka pilihan kita adalah secara sengaja mengizinkan orang lain mempengaruhi anak kita melalui sekolah. Merekalah guru-guru yang memang secara khusus belajar bagaimana mendidik anak. Tetapi ini pun tidak cukup. Jika guru hanya mengajarkan materi pelajaran, sementara mereka tak punya komitmen yang tinggi dan kepedulian terhadap iman anak-anak kita, maka jangan terkejut jika anak-anak fasih berbicara tetapi hampa imannya. Mereka pandai berbicara tentang agama, tapi tak meyakininya sepenuh jiwa.

Selain guru, ada sumber pengaruh lainnya yang potensial.Anak pasti akan bergaul dengan teman-temannya. Mereka berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Maka ketika datang ke sekolah, mereka juga membawa kebiasaan, budaya, cara pandang dan bahkan keyakinan keluarga kesekolah. Nilai-nilai yang mereka dapatkan dari rumah, akan mereka tawarkan kepada teman-temannya di sekolah. Saling pengaruh akan terjadi. Pertanyaannya, kita-kira anak kita termasuk yang mudah terpengaruh ataukah yang paling banyak mempengaruhi temannya? Kira-kira, pengaruh baik ataukah buruk?

Pergaulan anak dengan temannya boleh jadi menguatkan atau sebaliknya melemahkan nilai-nilai yang kita tanamkan dari rumah maupun yang dibekalkan oleh guru di kelas. Kita dapat menyalahkan teman-temannya, bahkan orangtua mereka, manakala anak kita menjadi buruk setelah bergaul dengan teman-temannya. Tapi ada satu pertanyaan yang perlu kita jawab dengan pikiran jernih dan hati yang bersih, mengapa teman-temannya dapat meruntuhkan apa yang telah kita tanamkan? Apakah yang menyebabkan anak lebih mempercayai temannya? Dan apa pula yang menjadikan perkataan kita lebih dipegangi dengan penuh rasa hormat.

Secara sederhana, jika anak-anak memiliki kedekatan emosi yang kuat dengan kita dan melihat kita sebagai sosok yang jujur, maka anak akan lebih mendengar perkataan kita. Nasehat kita akan mereka perhatikan. Bahkan jika anak melihat orangtua sebagai sosok yang mengagumkan, mereka akan berusaha meniru dan menjadikan kita sebagai panutan. Pun demikian dengan guru, jika anak melihat guru sebagai figur yang layak dipercaya dan dihormati, pengaruh guru akan kuat. Karenanya, orangtua dan guru memiliki tugas untuk saling menguatkan kepercayaan anak terhadap keduanya. Orangtua menumbuhkan kepercayaan, penghormatan dan ikatan emosi anak terhadap guru. Sementara guru semenjak awal menanamkan kepercayaan, kecintaan dan keinginan untuk senantiasa berbuat kebajikan kepada kedua orangtua (birrul walidain).

Ada tiga kebutuhan psikis anak yang harus kita perhatikan. Jika kebutuhan ini tak terpenuhi, maka temannya akan lebih berpengaruh daripada orangtua maupun guru. Jika kebutuhan tersebut hanya terpenuhi di rumah, maka orangtua akan menjadi figur yang berpengaruh, tetapi anak masih cukup mengkhawatirkan di sekolah. Pengaruh orangtua akan melekat lebih kuat jika mampu membangun kedekatan emosi yang kuat sekaligus memenuhi tiga kebutuhan anak tersebut. Sebaliknya, jika anak tak memperoleh pemenuhan atas kebutuhannya di sekolah saja, maka guru akan berperan sangat penting dalam membentuk kepribadian anak. Mereka amat menentukan.

Kuatnya pengaruh orangtua dan guru bukan berarti anak tak dapat bergaul dengan temannya. Bukan. Tetapi anak lebih mampu menyaring sesuai nilai yang ia terima dari orangtua atau guru. Ia pun dapat menjadi sumber pengaruh bagi temannya.

Lalu apa tiga kebutuhan yang perlu kita perhatikan tersebut? Pertama, anak perlu menyadari dan meyakini bahwa ia memiliki kemampuan yang bermanfaat. Kedua, anak mampu menjalin hubungan yang nyaman dan bermartabat dengan orangtua dan/atau guru. Ketiga, anak memiliki kebutuhan untuk memiliki peran atau sumbangsih yang berharga, baik di rumah maupun di sekolah. Nah.

Wallahu a’lambish-shawab.

Setiap Anak Bisa Sukses

Written By admin on Senin, 09 September 2013 | 09.57


Ingin anak Anda sukses? Maka perhatikan siapa gurunya. Sebuah riset yang dilakukan oleh S. Paul Wright, Sandra Horn, dan William Sanders pada tahun 1997 terhadap 50 ribu siswa, memberi pelajaran berharga kepada kita betapa pentingnya memperhatikan siapa yang menjadi guru bagi anak-anak kita.
Hasil riset yang mereka lakukan menunjukkan bahwa faktor penting yang berpengaruh secara langsung terhadap belajar murid adalah guru. Jika anak-anak kurang bergairah saat belajar, pertanyaan pertama yang harus dijawab secara tuntas sebelum memanggil orang tua adalah bagaimana guru mengelola kelas dan menjalin hubungan dengan murid-muridnya. Di luar itu, ada pertanyaan lain yang harus dijawab, apakah guru memiliki integritas pribadi atau tidak. Ini berarti, kompetensi saja tak cukup.
Wright dan kawan-kawannyan juga mencatat bahwa guru-guru yang efektif mampu menjadikan para muridnya berkembang secara efektif. Ini berlaku untuk semua siswa dengan berbagai jenjang prestasi. Tidak peduli seberapa majemuk ragam anak-anak di kelas. Jika di kelas banyak anak yang gagal mengembangkan kemampuannya secara efektif, berarti guru tidak mampu mengelola kelas. Bahkan, bias dikatakan guru tidak mengenali para muridnya dengan baik.
Berbagai riset menunjukkan bahwa anak-anak yang kemampuan matematikanya rendah dengan skor 50% ke bawah, setelah 2 tahun akan meningkat pesat kemampuannya jika ia belajar di sekolah yang efektif dengan guru yang juga efektif. Sedangkan anak-anak yang belajar di sekolah rata-rata dengan kemampuan guru mengelola kelas yang juga rata-rata, tidak mengalami perubahan apapun setelah dua tahun. Sementara itu, anak-anak yang belajar di sekolah yang tidak efektif dan celakanya memperoleh guru yang juga tidak efektif, justru makin lama akan menjadi bodoh. Prestasinya semakin terpuruk dan ia tidak mampu mengembangkan potensinya.
Pelajaran apa yang bisa kita petik dari gambaran di atas? Bahwa setiap anak itu bisa mengembangkan kemampuannya. Mereka bisa meraih sukses jika memperoleh bimbingan dari guru yang baik. Guru yang mampu menjalin hubungan akrab dengan muridnya secara bermartabat dan bisa membangkitkan tanggung jawab murid bagi kelangsungan pembelajaran yang penuh semangat.
Selain itu, guru yang baik adalah guru yang tegas datam menegakkan disiplin sekaligus dapat melakukan intervensi disiplin secara ketat dikelas, mampu membuat aturan dan prosedur kelas yang menjadi panduan bagi siswa dalam berperilaku, serta memiliki kecakapan membangun sikap mental yang tepat bagi muridnya maupun dirinya sendiri.
Selain terampil menjalin keakraban dengan siswa, yang tidak boleh ditawar-tawar adalah keharusan menjaga batas antara murid dan guru. Akrab dan bersahabat (friendly) memang harus, tetapi harus diingat bahwa guru adalah seorang pendidik dan pembimbing yang bertugas memberi arahan. Ada garis tegas yang perlu diperhatikan agar murid tetap memiliki tata-krama yang baik.
Menjadi guru efektif yang membuat setiap murid mampu meraih sukses bukanlah hanya soal kornpetensi. Bukan hanya menang semalam, yakni sekadar belajar lebih awal daripada muridnya. Sangat mumpuni dalam bidang yang diajarkan tetapi tidak mampu menyampaikan dengan baik dan kurang mampu menerangkan secara komunikatif, juga akan berakibat pada kesulitan belajar yang akan dialami murid. Oleh karenanya, guru harus terampil dalam mengajar dan mampu memahamkan murid.
ltu sebabnya, Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) dapat dipandang dari dua arah. Pertama, KKM adalah standar minimal yang harus dicapai oleh murid. Jika ada yang tidak mampu mencapai KKM, maka kesalahan sepenuhnya dapat ditimpakan kepada murid dan orang tua. Cara pandang inilah yang banyak dianut sekolah-sekolah kita di negeri ini.
Kedua, KKM merupakan target kemampuan murid yang harus dibangun oleh guru. Jika ada murid yang gagal memenuhi KKM, maka guru melakukan evaluasi caranya mengajar dan menangani murid. Cara pandang inilah yang diterapkan di sekolah-sekolah efektif, sehingga guru terbiasa melakukan penilaian, evaluasi, dan meneliti tindakannya di kelas. Ia berusaha menemukan sebab setiap masalah. Apalagi jika mayoritas murid bermasalah dalam KKM.
Sekali lagi penguasaan materi yang baik serta keterampilan mengaiar bukan aspek utama vang membentuk seseorang menjadi guru efektif. Ada aspek lain yang lebih mendasar, yakni motivasi, integritas, dan komitmen. Setiap sekolah perlu member perhatian serius untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar. Namun, hal tersebut iuga tidak cukup.
Pada saat yang sama harus ada usaha serius untuk meningkatkan secara terus-menerus kualitas pribadi setiap guru, baik yang berkaitan dengan motivasi, iman, akhlak, komitmennya terhadap agama maupun pendidikan, serta integritas pribadi. Ini semua sangat penting untuk memastikan agar setiap murid mampu meraih sukses. Lebih-lebih untuk sekolah lslam yang telah menyatakan sikap bahwa agama ini yang menjadi ruh dari seluruh kegiatan yang ada di sekolah. Peningkatan kualitas pribadi setiap guru tak dapat ditawar-tawar lagi. Setiap wali murid juga perlu memperhatikan hal tersebut. Sebab, di tangan para gurulah kita serahkan masa depan anak-anak kita.

Ustadz Fauzil Adhim
Sumber: Majalah Hadila, Edisi 75, September 2013, hal. 16-17.

Kuliner

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SDI Al-Islam Yogyakarta - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger